Ending Scene :

Berry kehilangan pita birunya. Pita biru dariku. Ahh.. tidak. Sebenarnya itu milikmu. Pita biru yang kupakai untuk hiasan kotak hadiah untukmu. Pita biru yang buru-buru kulepaskan tepat sesaat sebelum aku berikan kotak itu untukmu setelah seharian cemas.

“Hey, BLUE”
Seperti warna biru, kamu juga kesukaanku. Dan semua hal biru yang mengingatkanku padamu. Blue moon, blue sky, blue sea, lampu hias yang berkedip, hexagon, blueberry, sirup bubblegum, bercak-bercak cat, Sadness (InsideOut) and Smurf.

“Hey, BLUE”
Biarkan aku yang sedang bergumam, mengenangkan apa-apa saja yang ada didepanku sebagai kamu. Aku yang akan memutuskan apakah ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Membayangkan diriku bersandar pada awan-awan diatas sana melamunkan wajahmu, apakah masih terlihat bersahaja.

“Hey, BLUE”
Aku sudah lelah saat kita bermain catur, saling menunggu satu sama lain untuk memainkan biduk yang sudah terlanjur tertata rapih. Apa aku lemparkan saja semuanya ? agar lekas berakhir. Aku yang akan menutup rapat kotaknya kembali, seperti semula. Atau saat kita sedang duduk di ayunan kita masing-masing. Apa kamu masih mau diam saja?. Kalau aku? Aku ingin memacu ayunanku dengan kencang kemudian lompat dari tempatku. Mungkin aku akan terjatuh dengan begitu sakit atau aku bisa langsung berlari. Siapa yang tahu.

“Hey, BLUE”
Aku sudah tak lagi puitis seperti dulu. Aku tak tahu lagi bagaimana merangkai kata-kata dengan indah. Tiap hari kerjaku hanya melamun saja, mendengarkan bunyi-bunyi instrumental. Kadang bunyi musik atau piano ditelingaku. “Hey Jude, don’t make it bad. Take a sad song and make it better. Hey Jude, don’t be afraid...........”. Tapi sudah tak ada lagi jalan untuk membuat semuanya baik-baik saja. Hey Blue, apa aku lari saja ?. Aku ingin meninggalkanmu, biar aku sendiri saja. Tapi kalau dipikir-pikir kita memang tak pernah berduaan.

“Hey, BLUE”
Aku ingin tak dikenali. Aku ingin berada diantara orang-orang yang sepenuhnya asing bagiku. Aku tidak suka jadi pusat perhatian. Aku tidak suka berada diantara orang-orang yang mengenalku tapi enggan menyapaku. Atau aku juga enggan menyapa mereka. Aku tak peduli. Aku begitu benci kebisingan. Hey Blue, jika kamu tak bisa berdua saja denganku. Aku bisa sendiri. Walaupun sesekali aku pasti benar-benar merindukanmu.

“Hey, BLUE”
Apa kau pikir dari tadi aku serius ? semuanya bergantung padamu. Hey Blue, bagaimana jika pita biru itu aku temukan ? bagaimana jika tidak ?. HEY BLUE....



“Hey, BLUE”
Aku jadi sering lupa merawat kaktus-kaktusku kalau sedang senang-senangnya pesanku kamu balas. Atau saat sering mendapatkan kabar darimu. Tapi aku jadi terlalu sering menyemprot kaktus-kaktusku waktu aku sedang patah hati dan merasa kesepian. Kaktusku jadi mulai membusuk, duri-duri dan tiap cabangnya berguguran lalu mati. Tapi tak pernah aku buang mereka dari potnya.

“Hey, BLUE”
Aku pernah cemburu pada beberapa gadis kecil yang lebih puitis dan lebih artistik dariku. Memaksaku membaca lebih banyak buku lagi. Aku suka membaca kumpulan puisi, tapi aku jadi sadar ternyata aku tak begitu suka Chairil Anwar. Aku membaca novel romance, walaupun kadang-kadang aku malah jadi benci tokoh atau bahkan penulisnya. Aku suka fiksi sejarah karena identik dengan masalalu, tapi kadang membuatku jadi tak simpatik lagi. Paling malas saat membaca Biografi, kebanyakan hanya sejarah kelahiran, pendidikan dan kemudian bagian yang paling aku benci adalah ulasan kisah hidup yang terdengar seperti karangan fanatic-fans. Karena aku percaya setiap orang bahkan tokoh penting sekalipun punya sisi gelapnya masing-masing.

“Hey, BLUE”
Kemarin aku melihat gadis bergaun biru itu seperti akan meninggalkan tempatnya. Ia nampak gusar, mondar-mandir dibawah pohon akasia yang menaunginya. Pohon yang sudah tak berdaun satupun pada tangkai-tangkainya. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya agak kebiruan, mungkin karena diterpa angin dingin terlalu lama. Aku rasa didanau itu memang begitu dingin. Apa menurutmu aku ajak saja dia pergi ?. Aku takut kalau Dia akan memutuskan menjadi abadi bersama danaunya itu. Dan juga semua kenangannya disana. Tapi entahlah, apa nanti aku bisa akrab dengannya atau tidak. Apakah kita hanya akan saling diam dan berjalan sejauh mungkin tanpa tahu tujuan. Atau kita akan saling bercakap seperti kita sedang berkata-kata pada diri sendiri. Mungkin saja nanti kita hanya saling tatap kemudian tersenyum karena saling memahami perasaan kita. Aku bisa menebak, nampaknya kita sama-sama orang yang akan hanya melamun saat singgah ditempat-tempat yang indah sekalipun. Aku merasa begitu mengerti tentang kebisuannya.

”Hey, BLUE”
Kenapa aku menulis begitu panjang ?. Ah, BLUE. Sebenarnya masih begitu banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi aku begitu lelah. Sudahlah, aku takkan menulis lagi. Aku akhiri saja. I Smurf U. However, all of this are the BLUE Think. Full of Sadness.

Komentar

Postingan Populer