Embun

EMBUN

Embun pagi masih mengendap didedaunan pagi. Menggantung dan menggelayut lepas diantara dedaunan. Sejuknya menelisik disetiap tarikan nafas. Memberi rasa teduh pada jiwa-jiwa yang gaduh. Kilaunya yang tersorot berkas menari-nari diantara ilalang. Mengisyaratkan rindu yang gempita dikesunyian buta. Aku masih setia disini, ditemani secangkir kopi yang hangat dan manis. Mungkin kata orang ini pahit, namun tetap manis buatku. Mungkin juga karena aku terbius semerbak wanginya. Ya, siapa pula yang tahan mengendus aroma kopi yang nikmat ini. Secangkir kopi dari negeriku. Yang kualitas dan aromanya tak ada yang menandingi ini.
Aku duduk diantara sepasang meja dan kursi dari kayu jati. Meja dengan bentuk sederhana dengan motif kayu alami diatasnya. Bentuknya tak baku dengan empat kaki yang meruncing kebawah. Walaupun sederhana tapi begitu halus dan tulus begitu pula dengan kursinya. Sangat manis dipandang. Disini setiap penghujung gelap terduduk disamping jendela. Menantikan datangnya fajar lalu memandangi sinar mentari yang mulai hangat. Melunturkan embun dengan perlahan. Dan kemudian tanpa kusadar makin kering dedaunan.
Jika kata orang, mereka menamai apa yang aku lakukan ini melamun. Tapi mereka tak pernah tahu. Aku ini penikmat sejuk pagi, penggemar embun disela rerumputan. Mengamati setiap alunan gemercik aliran air disamping rumah.
Lalu dan selalu aku akan mulai mengenang, menjadi pendengar setia bisikkan rindu yang kian mengerang. Mengais titik temu yang kian jalang.
Mata yang terlihat tanpa arah ini hanya menaruh biasmu dalam setiap bayang dan pandangnya. Wajah yang lebih sering diam ini terkadang tersenyum sendiri. Mengenang sebuah jelma dalam taman-taman indah ciptaannya sendiri. Merangkum rindu dan rasa lainnya menjadi sebuah rona. Menjadikannya yang paling istimewa diantara lainnya. Ada yang lain diluar jendela saat embun mulai sirna. Ragam bunga-bunga cantik berhiaskan kupu-kupu jingga. Semerbaknya menawarkan manis bagi jiwa-jiwa yang hinggap disana. Selaras dengan rindu ini yang masih saja manis, masih saja menjadi pelangi.
Aku masih senang seperti ini, menjadi penikmat yang ada disekelilingku dan juga rinduku. Rinduku yang masih candu. Semuannya masih saja manis, masih juga menjanjikan senyuman.
Hampir disetiap paginya inilah yang aku lakukan. Memandang pada embun dan kemudian kumbang. Bercerita tentang parasaanku yang masih kupendam. Aku takut bahwa selamanya rindu yang menjalar-jalar tak sempat tersampaikan. Aku takut dengan apa yang akan terjadi jika mulai mengungkapnya. Tapi aku lebih takut jikalau aku mulai jenuh, mulai berputus asa bahkan jauh sebelum sempat menemuinnya.

Komentar

Postingan Populer